Jadikan Asuransi Syariah Solusi Kemakmuran Bersama

0
1295

JAKARTA — Asuransi mikro kini hadir bukan sekadar untuk memproteksi diri si tertangggung atau pemegang polis, melainkan juga melindungi usaha, khusus untuk pelaku usaha kecil dan menengah.

Hal ini dimungkinkan berkat hadirnya Asuransi Anti Bangkrut yang dikenal dengan nama ‘Si Abang’ untuk asuransi konvensional dan ‘Si Abang Syariah’ untuk asuransi syariah. Kedua produk asuransi mikro ini lahir atas kerja sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koperasi dan UKM, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), dan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI).

Asuransi mikro tersebut, Si Abang dan Si Abang Syariah, khusus untuk usaha dengan memberikan perlindungan untuk obyek tempat usaha seperti kios, warung, lapak, gerobak, bakulan, sepeda, sepeda motor, atau sampan yang digunakan untuk usaha.

Selain itu juga ada perlindungan atas modal usaha atau isi tempat usaha, termasuk perlengkapan usaha atau produknya.

“Jaminannya meliputi risiko kerusakan akibat kebakaran, ledakan petir, kejatuhan pesawat, asap, kerusuhan, tertabrak kendaraan, letusan gunung berapi (erupsi) serta gempa dan gelombang tsunami,” kata Ely Aswita, Chairman of Media Relation, Education and Socialization Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) dalam siaran pers terkait Insurance Day 2015.

Lebih lanjut ditambahkan bahwa tantangan yang dihadapi dalam memasarkan Produk Mikro Syariah adalah perlunya sosialisasi yang terus menerus dan berkesinambungan, karena untuk memberikan kesadaran masyarakat agar mereka mempersiapkan dirinya dan keluarganya apabila terjadi musibah yang tidak diharapkan, memerlukan proses pembelajaran terus menerus.

“Kita harus memiliki inovasi dengan ‘mempackaging’ produk Mikro Syariah tersebut melalui program-program yang menarik dan dibutuhkan oleh komunitas atau masyarakat,” jelas Ely Aswita.

Tantangan lainnya adalah jangkauan pemasaran Asuransi Mikro Syariah masih terbatas pada kota-kota di mana perusahaan asuransi memiliki cabang dan jaringan, sehingga untuk menjangkau masyarakat yang berada di daerah-daerah yang belum ada agen atau cabang perusahaan asuransi tersebut, diperlukan upaya ekstra dan biaya yang besar.

Hal ini harus dipertimbangkan oleh perusahaan, cost and benefit-nya. Padahal jika ini dapat diatasi, maka ajakan yang biasa kita gaungkan saat ini “ Mari Berasuransi“ ke depannya akan menjadi “ Indonesia Berasuransi”.

Sementara itu Ketua AASI Adi Pramana mengingatkan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia sudah mempunyai sebuah sistem perlindungan yang luhur.

Menurut Adi Pramana, asuransi syariah dengan prinsip dan asas saling tolong menolong dan saling melindungi di antara sesama peserta, selayaknya diyakini sebagai sebuah sistem ekonomi yang sustainable terhadap perubahan jaman.

souce: tribunnews.com