Si Abang, Perlindungan bagi Pelaku UKM

0
695

ASURANSI mikro hadir bukan sekadar untuk memproteksi pihak tertangggung atau pemegang polis, melainkan juga melindungi usaha, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Hal itu dimungkinkan oleh kehadiran asuransi antibangkrut atau disingkat Si Abang untuk asuransi konvensional dan Si Abang Syariah untuk asuransi syariah. Kedua produk asuransi mikro itu lahir atas kerja sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koperasi dan UKM, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), serta Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). ‘’Si Abang dan Si Abang Syariah khusus untuk usaha memberikan perlindungan atas objek tempat usaha, antara lain kios, warung, lapak, gerobak, bakulan, serta sepeda, sepeda motor, atau sampan yang digunakan untuk usaha,’’ungkap Ely Aswita, Chairman of Media Relation, Education and Socialization AASI. Selain itu, ada perlindungan atas modal usaha atau isi tempat usaha, termasuk perlengkapan usaha atau produknya. Jaminannya meliputi risiko kerusakan akibat kebakaran, ledakan petir, kejatuhan pesawat, asap, kerusuhan, tertabrak kendaraan, letusan gunung berapi, serta gempa dan gelombang tsunami. Tantangan yang dihadapi dalam memasarkan produk mikro syariah adalah perlu sosialisasi terus-menerus dan berkesinambungan.

Hal itu untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat agar mereka mempersiapkan diri dan keluarganya apabila terjadi musibah yang tidak diharapkan. ‘’Kita harus memiliki inovasi dengan mengemas produk mikro syariah itu melalui program-program yang menarik dan dibutuhkan oleh komunitas atau masyarakat,’’jelas Ely. Tantangan lainnya, jangkauan pemasaran asuransi mikro syariah masih terbatas pada kota-kota yang ada cabang atau jaringan perusahaan asuransi, sehingga untuk menjangkau masyarakat di daerah-daerah yang belum ada agen atau cabang perusahaan asuransi perlu upaya ekstra dan biaya esar. Cost and Benefit Ely mengungkapkan yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan adalah cost and benefit- nya. Jika dapat diatasi, ajakan yang biasa kita gaungkan saat ini, yakni ‘’mari berasuransi’’, ke depan akan menjadi ‘’Indonesia berasuransi’’. Pengembangan asuransi mikro ditujukan agar masyarakat berpenghasilan rendah dapat memiliki asuransi sebagai mekanisme perlindungan atas risiko keuangan yang dihadapi.

Karakteristik sederhana, mudah didapat, ekonomis, dan segera (SMES) menjadi pedoman dalam mengembangkan produk asuransi mikro. Dengan besaran premi atau kontribusi tidak lebih dari Rp 50.000 per 12 bulan, peserta bisa memperoleh beragam pilihan manfaat sesuai dengan produk yang dikeluarkan. Jika masanya telah habis, masyarakat dapat memperpanjang dengan melakukan pengajuan kembali. Polis disusun secara ringkas dan tidak menimbulkan multitafsir. Dokumen klaim terdiri atas tidak lebih dari empat dokumen. Proses persetujuan klaim tidak lebih dari 10 hari kerja. Besaran pertanggungan yang diberikan bermacam-macam, dari Rp 2,5 juta hingga Rp 50 juta, bergantung pada jenis produknya. Produk mikro untuk asuransi jiwa, antara lain Si Peci, Si Bijak, Rumahku, Warisanku, dan lainnya umumnya dikemas dalam bentuk voucher pulsa telepon dengan mengaktifkan melalui SMS dan mengikuti petunjuk yang tertera dalam kartu. Setelah itu, individu langsung terdaftar selama jangka waktu tertentu dan membeli serta mengaktifkan kembali apabila masanya telah berakhir. Si Bijak (Asuransi Mikro Syariah) yang dikembangkan oleh konsorsium asuransi mikro syariah AASI, misalnya, adalah suatu produk yang memberikan jaminan terhadap risiko meninggal dunia karena sakit, santunan pemakaman, discontinuity business, dan meninggal dunia karena kecelakaan pada saat masa kepesertaan asuransi syariah.

sumber: suaramerdeka.com