Isu Budaya dalam Asuransi Mikro

0
561

Terobosan budaya seperti apa yang dibutuuhkan untuk mempermudah pemasaran produk asuransi mikro di masyarakat berpenghasilan rendah

Solopos.com, SOLO — Sejak diluncurkan pada Oktober 2013, asuransi mikro belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan OJK) bersama-sama dengan asosiasi asuransi dan stakeholders lain seperti World Bank, GIZ, ILO dan Kementerian Koperasi.

Upaya-upaya itu mencakup penelitian tentang potensi pasar, pembuatan polis standar, workshop dan sharing pengalaman sukses asuransi mikro di negara lain, sampai dengan road show sosialisasi produk standar asuransi mikro ke komunitas masyarakat di pelosok-pelosok negeri.

Sejatinya asuransi mikro sudah didesain sedemikian rupa agar masyarakat berpenghasilan rendah dapat memanfaatkan produk asuransi mikro sebagai instrumen perlindungan tingkat pertama apabila terjadi peristiwa yang menimpa mereka.

Dalam grand design, asuransi mikro dirancang dengan maksimum harga premi Rp50.000/tahun dan manfaat berupa santunan maksimum Rp50 juta. Dengan harga premi per tahun yang tidak lebih mahal daripada harga lima mangkuk bakso ini, asuransi mikro diharapkan dapat laris manis di segmen masyarakat bawah sehingga financial inclusion di negeri ini dapat benar-benar terwujud.

Fakta menunjukkan masih butuh usaha ekstra untuk melihat keberhasilan asuransi mikro. Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah sering dianggap sebagai penyebab susahnya memasarkan asuransi mikro kepada masyarakat luas.

Fakta ini memang tidak dapat dibantah. Survei OJK pada 2013 menyebutkan hanya 17,8% masyarakat Indonesia yang betul-betul memahami asuransi. Apakah betul kalau tingkat melek keuangan masyarakat Indonesia meningkat maka penjualan produk asuransi mikro akan otomatis meningkat?

Apakah betul ketika masyarakat sudah memahami manfaat asuransi maka otomatis akan mau membeli polis asuransi? Secara rasional mungkin benar. Tingkat pemahaman masyarakat berhubungan secara linier dengan tingkat penjualan produk asuransi mikro.

Fakta empiris yang tidak boleh dilupakan dalam meningkatkan kemauan masyarakat membeli produk asuransi mikro adalah masyarakat berpenghasilan rendah maupun masyarakat perdesaan secara umum cenderung membeli sesuatu pada saat sedang membutuhkan.

Sangat jarang ditemukan masyarakat perdesaan membeli sesuatu dengan alasan untuk berjaga-jaga atau untuk kepentingan persediaan. Sebagai contoh, berdasarkan pengalaman pribadi, orang desa kalau membeli obat sakit kepala hanya ketika sedang mengalami sakit kepala.

Orang desa sering kali hanya membeli satu tablet obat sakit kepala, bukan membeli satu strip obat sakit kepala, karena biasanya cukup dengan satu tablet saja sakit kepala sudah sembuh. Orang berpenghasilan rendah cenderung malas membeli obat sakit kepala dalam jumlah banyak, kecuali kalau mau dijual lagi.

Alasannya adalah potensi terjadinya sakit kepala tidak setiap hari. Bisa jadi hanya satu kali per tahun per keluarga. Kebiasaan masyarakat seperti contoh di atas dapat digunakan sebagai referensi dalam pengembangan asuransi mikro di segmen warga berpenghasilan rendah dan pelaku usaha mikro.

Dari perspektif budaya, dapat dipahami kenapa masyarakat enggan membeli produk asuransi mikro, walaupun harganya relatif murah jika dibandingkan dengan jenis asuransi nonmikro.

Apabila dibandingkan dengan obat sakit kepala yang cukup dengan Rp1.000, harga premi produk standar asuransi mikro puluhan kali lebih mahal. Kalau membeli obat sakit kepala untuk keperluan berjaga-jaga saja masyarakat tidak mau maka membeli produk asuransi mikro saja tentu akan lebih susah lagi.

Apalagi potensi terjadinya peristiwa yang dapat membuat seseorang mendapatkan santunan/manfaat dari perusahaan asuransi juga tidak setiap hari atau tidak juga setiap tahun terjadi.

Tentu tidak dapat disamakan antara menjual obat sakit kepala dengan menjual produk asuransi mikro. Kalau seseorang dapat kapan saja membeli obat sakit kepala, termasuk ketika sedang mengalami sakit kepala, tentu hal ini tidak dapat diberlakukan dalam pembelian dan pembayaran manfaat polis asuransi mikro karena tidak sesuai dengan filosofi bisnis asuransi.

Lalu terobosan budaya apa yang dapat dilakukan untuk mempermudah pemasaran produk asuransi mikro di masyarakat berpenghasilan rendah?

sumber: www.solopos.com

Gagasan Solopos, Jumat (7/8/2015), ditulis Mohammad Amin. Penulis adalah Kepala Subbagian pada Direktorat IKNB Syariah Otoritas Jasa Keuangan.